Menyoal Kebebasan dan Lirik ‘Donna Donna’

“Calves are easily bound and slaughtered. Never knowing the reason why. whoever treasures freedom. Like the swallow has learned to fly.”

Rintik hujan menemani langkah saya berlari mengejar Bus Damri menuju Kota Bandung. Sore hari, 20 Januari 2016, setiba di dalam Bus saya tersontak kagum dan terhanyut dalam buaian nyanyian Bapak pengamen di dalam Bus Damri.

Lagu tersebut begitu tidak asing bergegas saya periksa galeri musik pada gadget, Benar, lagu tersebut adalah lagu Donna Donna yang dinyanyikan ulang oleh Joan Baez dan dinyanyikan ulang oleh Sita RSD untuk soundtrack film Gie di Indonesia. Lantas saya teringat akan film Gie, setiba di kos saya menonton ulang kembali dan memperhatikan scene dimana nyanyian Donna Donna-nya Sita RSD mengalun.

hqdefault

Sita menyanyikan Lagu Donna Donna

 

gie01

Soe Hok Gie yang diperankan Nicholas Saputra

Ada sebuah scene dalam film Gie, Gie menganalisa dan mengartikan arti lirik seperti uraian berikut;

“Kita tidak boleh menerima nasib buruk dan menganggapnya sebagai jalan hidup yang telah ditentukan bagi kita, pasrah menerimanya sebagai kutukan. Kalo kita ingin hidup bebas, kita harus belajar terbang.”

Saya tidak dapat memberi penafsiran yang tepat untuk lagu ini. Saya sama sekali tidak tahu apa yang pencipta lagu ini ingin ungkapan bahkan apa yang ingin Ia sampaikan. Apa yang saya tulis disini hanya sebatas pemikiran pribadi karena telah menonton film Gie dan membaca buku Catatan Seorang Demonstran . Apa pendapat saya di blog ini dan apa yang saya rasakan waktu mendengarnya merupakan sebuah pendapat pribadi.
Lagu ini merupakan lagu yang bertemakan dan berinti terhadap kebebasan. Tentang kebebasan dan sebuah nasib. Tentang hak kita dalam hidup, dalam menentukan pilihan dan harus berubah, berbuat, bertindak dan memilih yang baik. Lagu ini tentang ketidakberdayaan seseorang dalam menerima nasib dan bagaimana mengubahnya.
Pendapat ini mengalir masih dengan bantuan film Gie, saya melihat scene dimana Sita menyanyikan lagu ini dihadapan para mahasiswa. Mungkin, Sita ingin mengajak para mahasiswa untuk bebas, bersuara, bertindak dan melawan rezim yang berkuasa karena mahasiswa memiliki peranan penting dalam sebuah bangsa. Mungkin, Sita ingin menciptakan para reformator-reformator dan jiwa founding father dalam jiwa para mahasiswa. Mahasiswa, merupakan satu kata yang menarik dari gabungan kata tersebut adalah kata “Maha” yang artinya besar. Jika diartikan secara keseluruhan, berarti seorang pelajar yang sudah besar, baik besar pemikirannya maupun besar tekadnya untuk memanfaatkan ilmunya agar berguna untuk seluruh umat di muka bumi ini.

 

Saya tidak puas dengan pendapat pribadi ini, lalu saya mencoba mencari darimana dan bagaimana berasalnya lirik Lagu Donna Donna ini, saya uraikan dibawah ini dengan mengutip informasi dari wikipedia :
Dona-dona adalah lagu yang sempat dibumikan di negeri merah putih ini, tepatnya pada film Gie pada tahun 2008, yang digambarkan sebagai lagu kesukaan Soe Hok Gie. Lagu ini menggambarkan teriakan anak sapi yang terkekang di atas kereta yang akan di bawa ketempat pembantaian, dan anak sapi ini adalah sang penulisnya yang hidup pada masa kejayaan Nazi di jerman. Dona-dona sama dengan Dana Dana, dikenal juga sebagai Dos Kelbl, yaitu The Calf atau Anak Sapi. Dan dalam kamus yahudi dona adalah nama lain dari Adolai yaitu nama lain dari yahudi untuk memanggil-manggil Tuhan mereka.
 Lagu ini diterjamahkan dari bahasa Yiddish yang ditulis oleh Aaron Zeitlin dan dikomposeri oleh Sholom Secunda yang berjudul Dana. Aaron Zeitlin (1898-1973) sendiri adalah anak dari sastrawan Yahudi, Hillel Zeitlin, tulisanya tentang sastra Yiddish, puisi dan para psikologi. Sedangkan Sholom Secunda (1894-1974) adalah seorang komposer Yahudi kelahiran Ukraina yang mengenyam pendidikan di Amerika. Dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, Prancis, Ibrani, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris.
 Untuk bahasa inggris, pada mulanya diterjemahkan oleh sang komposernya sendiri Sholom Secunda, dengan mengganti kata “Dana”, menjadi “Donna”. Namun terjemahannya membuat lagu ini seakan tidak terlantunkan lagi. Sampai di pertengahan 1950-an lirik lagu ini diterjemahkan kembali oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz. dan menjadi populer setelah dinyanyikan oleh Joan Baez pada tahun 1960.
 Dalam salah satu penggalan liriknya “On a wagon bound for market/ there’s a calf with a mournful eye / High above him there’s a swallow / winging swiftly through the sky. Menggambarkan anak sapi yang didalam satu kereta kuda yang menuju ke pasar; dengan mata berduka; diatasnya ada burung; terbang cepat mengarungi langit. Sedangkan sapi itu menuju ketempat penjagalan. Sapi tersebut iri kepada burung-burung yang bisa terbang bebas dan kebebasan atas segala-galanya tanpa kekangan dengan jiwa yang merdeka.
Latar belakang penulisan lirik asli lagu ini tidak luput dari pengalaman penulisnya yang merupakan anak seorang Yahudi keturunan Khazar dari negara Khazaria, terletak diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang sekarang dimiliki oleh negara Georgia. Pada waktu itu ia menggambarkan kejadian ayah kandungnya yang diseret oleh tentara Nazi untuk dibawa ke kamp konsentrasi Yahudi. Ia tidak bisa berbuat banyak, kecuali bersembunyi dibalik dinding-dinding. Dan menulis kejadian yang dialaminya dalam buku hariannya setelah beberapa waktu.
Dalam catatanya, sang tani membawa sapi-sapi (yahudi) bukan untuk diperkerjakan tapi untuk dimusnahkan. Karena sapi merupakan keyakianan penguasa saat itu yang ambigu antara mitos dan realita yang akan meruntuhkan singgasananya. Dan kemudian catatan ini di jadikan lagu teater Yidish. Dan Yidish sendiri adalah sebuah bahasa kelas atas Jerman yaitu bahasa Yahudi Ashkenazi. (wiki)
On a Weagon bound the market
Di sebuah gerbong yang membatasi pasar
There’s a calf with a mournful eye
Ada seekor anak sapi dengan mata yang berdukaHigh above him there’s a swallow
Jauh tinggi diatasnya ada seekor burung layang layang

Winging swiftly through the sky
mengepakkan sayap dengan cepat melintasi angkasa
How the winds are laughin
Betapa angin angin itu tertawaThey laugh with all they might
mereka tertawa sekuat mereka

Laugh and laugh the whole day through
Tertawa dan tertawa sepanjang hari

And half the summers nigh
serta separuh malam musim panas

(Chorus)
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna DonnaDonna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Don

Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Donna

Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Don

“Stop complaining!” Said the farmer
“Berhentilah mengeluh!”,kata si Petani

Who told you a calf to be?
Siapa suruh jadi anak sapi?

Why don’t you have wings to fly with
Kenapa tak kau punyai sayap untuk terbang?

Like the swallow so proud and free?
Seperti burung layang layang, sangat bangga dan bebasCalves are easily bound and slaughtered
Anak anak sapi mudah diikat dan dibunuh

Never knowing the reason why
tanpa tahu alasannya

But whoever treasures freedom
Tapi siapapun yang mencari kebebasan

Like the swallow has learned to fly
seperti burung layang layang, harus belajar terbang

Ternyata benar lagu ini tentang Kebebasan. Menyoal Lagu tersebut yang berasal dari bangsa Yahudi, saya tidak peduli dan tetap menyukai lagu ini (banyak pro-kontra karena lagu ini dari bangsa Yahudi). Sekarang saya tahu, dan sudah memutuskan untuk memilih jadi burung layang layang. Seorang mahasiswa yang akan belajar seperti burung layang-layang yang belajar terbang.