Mencicipi Mie Jalak dan Sate Gurita di Sabang

Berbincang-bincang makanan dengan Bang Amat bermula dengan rasa penasaranku tentang kudapan khas Sabang yang aku temui di beberapa Travel Blog, yaitu Mie Jalak dan Sate Gurita, nama yang unikkan?

Bang Amat bergegas membawa kami menuju Toko Pulau Baru di jalan Perdagangan, Kota Sabang.  Dari kejauhan, aku mengira bahwa Toko Pulau Baru hanya kedai kopi tetapi saat memasukinya, kepulan asap dari mie rebus mulai memantik selera makan.

Kawasan ini masih seperti kawasan unik dengan setting kota zaman dahulu. Mie Jalak sudah terkenal sejak tempo dulu dan identik sebagai kudapan khas Kota Sabang. Melalui rujukan yang ku baca, nama mie jalak sendiri berasal dari julukan Pak Sukianto hen, pemilik Toko Pulau Baru Mie jalak. Mie Jalak merupakan bisnis keluarga turun temurun, Mie Jalak dibuat sendiri dan hanya satu-satunya di Kota Sabang. Kuah Bening kental dan dibagian atas Mie ditaburi dengan potongan-potongan ikan yang dbentuk dadu. Rasanya? Tidak perlu ku jelaskan panjang lebar. Enak!

Mie Jalak
Mie Jalak 
Satu porsi Mie Jalak yang ku nikmati di hargai Rp 12.000, harga yang bersahabat untuk pelancong hemat sepertiku. Hampir setiap hari Toko Mie Jalak Pulau Baru di padati pelancong, warga juga tidak ikut ketinggalan. Selain rasa yag khas, Mie Jalak tak ada di tempat lain. Hanya ada di Kota Sabang, sama halnya dengan Sate Gurita.

Sate Gurita
Sate Gurita
Sate Gurita merupakan kudapan khas Sabang, gurihnya potongan-potongan daging gurita panggang dari perairan Weh. Salah satu lokasinya berada di Pusat Jajanan Sabang Fair. Berbeda dengan Mie jalak, penjual Sate Gurita lumayan banyak.

Taman di Sabang Fair
Taman di Sabang Fair
Aku menikmati Sate Gurita sambil menunggu Senja Kota Sabang yang tidak ingin memperlihatkan wujudnya di Taman Sabang Fair bersama dengan keramaian warga. Daerah yang dikelilingi lautan ternyata juga dikelilingi kuliner yang mengungah selera makan. Jika perut anda keroncongan usai jalan-jalan, tak ada salahnya untuk mencoba Mie Jalak dan Sate Gurita yang menjadi penganan wajib di Kota Sabang.

Iklan

JATUH CINTA PADA IBOIH

(24/08/2015) Selamat datang di Tanah Rencong!

Matahari yang cerah menyambut kedatangan kami di Terminal Batoh, Banda Aceh. Lelah menyelimuti masing-masing dari kami karena hampir 10 jam berada di bus Sempati Star. Syukurlah kami tiba juga di tanah rencong.

Tiba di Banda Aceh bukan berarti kami sudah tiba pada tujuan awal, Kota Sabang di Pulau Weh. Kami masih harus melanjutkan perjalanan darat dan laut. Pelabuhan Ulee Lheu berada cukup jauh dari Terminal Batoh, kami memutuskan untuk memilih moda transportasi taksi. Berhubung kami berempat, biaya yang dikeluarkan untuk naik taksi tidak terlalu mahal.

Beruntungnya kami berkenalan dengan Bang Sapri saat tiba di Pelabuhan Ulee Lheu. Bang Sapri dengan ramah menawarkan paket perjalanan wisata mengelilingi Banda Aceh kepada kami, kami lantas menerima pastinya dengan nego harga terlebih dahulu. Ohya, supir taksi yang membewa kami ke Pelabuhan Ulee Lheu memberikan kontak seseorang yang dapat kami hubungi jika kesulitan di Sabang. Sebelum menaiki kapal, kami terlebih dahulu sarapan di sekitar pelabuhan. Sialnya, kami tidak langsung bertanya kepada pihak pelabuhan mengenai kapal yang akan berangkat malah bertanya kepada Mbak-mbak penjual Lontong dan Nasi Gurih. Akhirnya, kami ditipu mengenai jadwal keberangkatan Kapal Lambat dan mengikhlaskan ketinggalan Kapal Lambat.

Jumlah Kapal Lambat yang sedikit menjadi kendala untuk tiba di Pelabuhan Balohan dengan biaya murah. Kapal cepat tersedia banyak, tetapi lumayan mahal sekitar 75.000. Kapal lambat akan berangkat kembali di sore hari sedangkan kami tiba di Pelabuhan Ulee Lheu di waktu pagi. Rasa tak sabar menunggu membuat kami memutusan untuk mengunakan Kapal Cepat walaupun mahal dengan catatan saat kembali ke Pelabuhan Ulee Lheu kami harus menggunakan Kapal lambat yang hanya Rp 25.000.

Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba dengan di Pelabuhan Balohan.

Pagi itu kami langsung bertemu dengan Bang Amat. Bayangan cantiknya Pantai di Pulau Weh langsung hinggap di kepala. Pada awalnya kami tidak ingin menggunakan jasa Bang Amat sebagai travel pariwisata di Sabang. Mengingat jalanan di Sabang dikelilingi jurang curam dan kami berempat hanya perempuan, kami memutuskan menyewa jasa Bang Amat selama berada di Pulau Weh. Bayangan perjalanan menggunakan motor selama di Pulau Weh di buang jauh-jauh. Perjalanan pertama kami menuju Pantai Iboih. Sepanjang perjalanan menuju Pantai Iboih jarang kami temukan motor apalagi mobil Jalanan benar-benar sepi, tak ada macet sedikitpun.

Walau berkelok-kelok, jalanan menuju Pantai Iboih beraspal mulus. Saya menikmati pemandangan hutan yang berkabut tebal. Tak perlu menghidupkan Air Conditioner karena cukup membuka kaca mobil, kami sudah dibelai dengan udara dingin sejuk. Wajah lelah saya yang tadinya semendung langit yang akan hujan berubah cerah begitu tiba di Pantai Iboih.

Erick Green Hostel, begitu nama hostel tempat kami menginap.

Erick Green House
Erick Green House
Saya langsung senang karena kamarnya luas, tempat tidurnya double dengan sprei yang bersih, Balkonnya dilengkapi kursi santai dan pintu antara kamar dan balkon bisa dibuka lebar sehingga tidak berasa ada pembatasnya. Interior kamarnya memang sederhana, hanya berwarna putih tanpa ada lukisan atau apapun tergantung di dinding. Saya tak berhenti berdecak kagum karena terumbu karang yang ada disekitar kamar saja sudah bagus dan menawan hati, apalagi spot snorkling yang lain.

Saya lalu mengganti baju agar makan siang dan langsung snorkling di Pulau Rubiah. Makan siang saya di sponsori oleh Ikan goreng khas lautan Sabang. Perut kenyang, hati senang dan saya tidak sabar ingin berenang.

Menuju Pulau Rubiah
Menuju Pulau Rubiah
Saya yang memang sudah tidak sabar ingin menceburkan diri ke air karena panas berlama-lama di atas kapal saat menuju Pulau Rubiah langsung meluapkannya dengan berendam kesana-kemari. Airnya jernih membuat kita bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan tanpa harus menyeburkan diri.

snorkling di pulau rubiah
snorkling di pulau rubiah
Dari cerita abang Snorkling Guide, jika dipagi hari air bisa lebih jernih dan foto akan lebih bagus. Saya tidak cukup puas dengan hasil snorkling hari itu karena dilakukan di sore hari dan terlalu ramai. Sedih betul rasanya. Tapi bagaimanapun, kami tidak mungkin mengulang snorkling esok hari mengingat waktu yang tidak banyak. Saya harus kembali secepatnya ke Jatinanor karena perkuliahan akan kembali aktif setelah libur panjang. Walaupun begitu, pemandangan bawah laut Rubiah Island memang membuat saya berdecak kagum, Beragam jenis terumbu karang berbagai warna yang dilewati ikan-ikan karang cantik benar-benar memanjakan saya.

saya bersama ikan dan terumbu karang
saya bersama ikan dan terumbu karang
Jam 5 sore kami sudah kembali ke hostel, bebersih diri dan bersantai menikmati sore di balkon menunggu senja yang tak kunjung datang. Langit sore itu agak mendung namun semburat senja merah masih terlihat sedikit dibalik awan. Apalagi yang bisa saya katakan selain mengucap syukur.

senja yang malu-malu
senja yang malu-malu
Kami menghabiskan malam dengan menyantap kudapan khas tanah rencong di warung yang berada disamping hostel. Walau hanya Roti Cane dan Martabak Telor, karena di santapnya sehabis lelah berenang, nikmatnya berkali-kali lipat. Ditambah dengan pemandangan Bule ganteng yang mondar mandir serta teh manis yang menghangatkan tubuh kami yang kedinginan dan kelelahan. Setelah puas, kami kembali kekamar untuk tidur cepat karena esok akan lebih menarik.

(25/08/2015) Pagi yang malas untuk bangun dari tempat tidur.

Dari bilik-bilik pintu kamar terlihat cahaya matahari memanggil, saya bergegas membuka pintu kamar. Hamparan lautan dipeluk kabut. Pagi itu, nampaknya matahari malu memperlihatkan wujudnya. Suasana liburan di pantai sudah terasa, langit semakin merekah.

DSC_0584

Kemarin sebelum kembali ke hostel, kami berbincang dengan abang snorkling guide, kami disarankan untuk sarapan ke Iboih Inn sebelum meninggalkan kawasan pantai Iboih. Kami berempat bergegas ke Iboih Inn dan bersantai sejenak.

Iboih Inn, hostel terkenal di Sabang.
Iboih Inn, hostel terkenal di Sabang.

bersantai sejenak di balkon Iboih Inn
bersantai sejenak di balkon Iboih Inn
 
Setelah puas berfoto di Iboih Inn, kami kembali ke Hostel untuk bersiap-siap karena akan menempuh perjalanan mengelilingi Sabang. Jadi siapa yang tidak jatuh cinta dengan Iboih?

Teruntuk Ayah

  

Tangan kokoh beliau lah yang pertama kali menyambut titipan Tuhan menatap dunia. Dengan tangan yang sama, Ia menuntun seorang gadis kecil belajar berjalan menapaki tanah. Ketika tangis memecah tawa, tangan tersebut berhasil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi anak pertamanya. Tangan kasarnya yang telah berhasil menghidupi saya menjadi seorang perempuan dewasa. Dan tangan tersebutlah yang akan menghantarkan saya untuk hidup bersama dia imam saya, nantinya.

Selamat ulang tahun Papa. Tidak pernah sedikitpun terbayang kalau saya bukan lahir sbg anak anda. Mungkin yang ada hanyalah Af yg manja dan lemah. Terima Kasih sudah mendidik saya dengan baik dan penuh rasa kasih sayang. 

Terimakasih telah memberikan pemahaman kepada saya sejak kecil bahwa dunia ini luas dan perlu langkahi. Semua memang salah Papa  jika saya selalu ingin berjalan dan bertemu dunia baru! 

Mendaki Gunung?

Mt.Papandayan
Mt.Papandayan
Mt.Prau (2013)
Mt.Prau (2013)
Mendaki gunung membuatku malu 
Menyadarkan bahwa aku tidak ada apa-apanya di muka bumi saat aku berada di atas puncak. Aku malu kepada Tuhan. Aku merasa Kecil, kecil sekali. Rasa malu seperti itu yang lama-lama membuatku menjadi candu. Mungkin itu pula yang dirasakan orang-orang dengan segudang pengalaman dan kisah penjelajahan, baik itu perjalanan atau bahkan mendaki gunung.
Mendaki gunung membuatku menyayangi sesama manusia.
Aku yakin gunung diisi dengan pendaki gunung yang mayoritas orang baik, itu dapat ku temui sewaktu sedang dalam keadaan mendaki, semua ramah, semua membantu bahkan ada yang memberikan air dan saling kenalan.
Mendaki gunung adalah cara belajar adaptasi yang paling sempurna sekaligus paling ekstrem.
Bagaimana tidak? Aku harus beradaptasi dengan dinginnya pagi hari dan teriknya cahaya matahari disiang hari.
Mendaki gunung memaksaku menerima semua jenis kemungkinan, semua jenis pemikiran, tak masalah apakah aku setuju atau tidak. Namun ibarat padi, kian berisi maka kian merunduk.
Mungkin jika sudah tua aku tidak bisa seperti ini lagi, setidaknya jika aku sudah tua aku memiliki segudang kenangan jika masa muda ku tidak dihabiskan dimall, dikos atau bahkan untuk cinta hehehehe
Aku suka mendaki gunung, karena itu sama seperti mengejar impian.
Ibarat mendaki, kita pasti membutuhkan perjuangan untuk mendapatkan pemandangan yang indah. Mendaki gunung itu tidak jauh beda dengan mengejar cita-cita atau menuntut ilmu. Aku menyukai kegiatanku sekarang dalam menuntut ilmu karena aku percaya dan yakin akan ada sesuatu yang baik yang diberikan Tuhan melalui ilmu ini dan aku mengamini itu.

Salam Namaste, India!

Suatu sore, seorang teman saya bertanya, “kemana sih impian liburan kamu? kecuali eropa?”

“INDIA, sahutku.

“Ngapain India? Kamu pikir kondisi geografis India itu sama dengan yang terlihat pada Film Bolywoodnya?”

Begini skemanya,

Berkunjung ke destinasi dengan pemandangan menakjubkan sepertinya sudah biasa dilakukan, namun berkunjung ke tempat dengan padat penduduk, ibu-ibu mandi dikali yang berada pinggir jalan bahkan mencuci baju, sapi berkeliaran di jalanan, desak-desakan dengan manusia, pride warga-nya akan kebangsaan masih tinggi (bangga pake produk dalam negeri termasuk bolywoodnya, cuy), anak-anak muda yang masih suka memakai cara berpakaian khas india seperti shalwar kameez dan tak ketinggalan dupatta. Interaksi sosial seperti inilah yang ingin saya lihat langsung, sebelumnya saya hanya melihat hal ini di film Slumdog Millionaire dan Peekay.

“Suatu saat saya pasti akan menyempatkan diri berkunjung ke India, negara yang identik dengan agama Hindu tersebut”.

Teman saya masih heran dan kemudian tertawa.

Saya tak peduli streotip yang berkembang tentang India, saya tetap ingin ke India dan memulai petualangan perjalanan disana walaupun banyak artikel yang menyebutkan bahwa wisatawan perempuan diminta untuk ekstra hati-hati. Berikut hal-hal yang mendorong saya ingin ke India :

1.Saya akan  menonton  Film Bolywood di bioskop Mumbai

Film-film Bolywood sempat memuncak di Indonesia pada permulaan tahun 2000. Saya adalah salah satu diantara masyarakat yang mengikuti fenomena film-film tersebut. Kehidupan masyarakat, pemuda, dan percintaan, semua tergambar seimbang dengan balutan budaya yang khas.

photo by movies4you.com
photo by movies4you.com
Saya baru sadar, film India punya arti besar dalam masa-masa remaja saya karena pasca Kuch-Kuch Hota Hai, perfilman India mendapatkan ketenaran hebat yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya dan saya ikut terhipnotis. Saya mengetahui tempat-tempat indah di pelosok dunia karena film Bolywood, seperti Taman jembatan Broklyn di film Kal Ho Na Ho, Santorini lewat film Chalte-Chalte 

Saya penasaran, bagaimana menari dan bernyanyi ala film Bolywood diterapkan di India dan untuk itu juga saya ingin melihat langsung di sana.

2. Saya ingin menggunakan Sari

photo by: mohr-mcpherson.com
photo by: mohr-mcpherson.com
Jika keseharian saya identik dengan jeans, kaos dan kemeja, keseharian gadis-gadis India identik dengan Sari. Melihat gadis film-film India yang menggunakan Sari, saya tertarik ingin mencoba menggunakannya, terlihat feminim dan anggun.

3. Memakai Aksesoris, Bindi dan Henna

photo by rebloggy.com
photo by rebloggy.com
Suatu saat saya ingin memakai Bindi di dahi saya, walaupun bindi merupakan tanda pengorbanan seorang wanita di India. Selayaknya seorang wisatawan, saya ingin tampil cantik dengan aksesoris berupa titik merah tersebut dengan dibalun oleh aksesoris-aksesoris gelang kaki, cincin dan kalung emas. Tak hanya dari keluarga berada saja yang mengenakan perhiasan ramai di India, hampir semua kalangan mengenakan perhiasan banyak di tubuhnya, baik imitasi atau asli.

photo by truephotography.com
photo by truephotography.com
Saya juga akan memotif telapak tangan saya dengan Henna. Henna merupakan seni lukis di tanan yang terbuat dari tumbuhan dan tidak permanen jika dilukiskan dikulit, berbeda dengan Tatto.

4. Mengikuti Festival Holi. 

Seperti Indonesia, masyarakat India juga beragam suku, agama dan budaya. Keragaman ini menghasilkan begitu banyak festival-fetival unik, salah satu yang populer adalah Festival Hoi. Festival ini merupakan kegiatan  dimana warga saling melemparkan bubuk berwarna-warni ke satu sama lain.

photo by edition.presstv.ir
photo by edition.presstv.ir
Seusai festival ini, India jadi lebih berawarna semarak. Saya sering melihat adegan ini di film-film Bolywood, seperti Mohabbatein dan Yeh Jawaani Hai Deewani. Sungguh, Film Bolywood sukses mengangkat budaya mereka kedalam film-film besutan negaranya.

5. Mengunjungi Taj Mahal

photo by blog.lefigaro.fr
photo by blog.lefigaro.fr
Kisah romantis di balik pembangunan Taj Mahal menarik jutaan wisatawan untuk mengunjungi bangunan yang sepintas terlihat sperti mesjid, termasuk saya. Taj Mahal merupakan salah satu tujuh keajaiban Dunia. Sebanyak 43 jenis batu permata, termasuk berlian, kristal dan nilam digunakan untuk memperindah Taj Mahal. Saya ingin sekali mengunjuni bukti cinta Kaisar Mughal Shah Janan ini kepada istrinya.

6. Mengisi memori kamera dengan foto-foto Human Interaction

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya pasti akan menemui banyak human interaction di India. Saya bisa melihat manusia-manusia yang berdesakan, laki-laki tua yang melepas sapi ke jalan, seorang gadis yang sembayang, anak kecil yang berlari dijalanan.

istimewa
istimewa
photo by www.abc.net.au
photo by abc.net.au
Jika Eropa dan Asia penuh dengan keindahan alam, maka saya akan banyak menemui Human Interaction di India.

7. Mencicipi Jajanan khas India

Jajanan di india juga diramaikan oleh penjaja dagangan, seperti samosa, kari dan berbagai manisan. Bahkan di kota-kota besar seperti Mumbai, pedagang kaki lima tak mau ketinggalan berjualan.

samosa. photo by thinkindia.net.in
samosa. photo by thinkindia.net.in
photo by ninefinestuff.com
Gol Gappa. photo by ninefinestuff.com
Laddu (manisan). photo by lalasweets.in
Laddu (manisan). photo by lalasweets.in
Saya tertarik mencoba salah satu jajanan khas India, yaknik Gol Gappa, jajanan yang saya ketahui ketika melihat penganan tersebut di Film Rab ne Bana De Jodi.

Lebih dari sekedar pemandangan gunung, pantai atau keindahan alam, berlibur ke India juga pasti akan mengaksyikkan kok dengan melihat kehidupan interaksi sosial masyarakatnya. Jika ingin melihat keindahan alam bisa juga mengunjungi Lembah Kashmir atau Shimla. Jadi apa yang salah dengan pilihan liburan ke India? 🙂