La chasse au bonheur

Saat belajar filsafat komunikasi, saya tertegun dengan tugas yang diberikan oleh dosen saya.

“Apakan tujuan hidup anda?”

Butuh beberapa hari berpikir untuk jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut, dan akhirnya saya menuliskan jawaban saya di sebuah paper. Saya menjawab, seperti halnya jawaban teman-teman yang lainnya, saya ingin membahagiakan kedua orangtua saya, saya ingin sukses dan sebagainya.

Dosen saya pun menyela, jika kamu tidak memiliki orang tua, apakah tujuan hidupmu akan seperti itu? Untuk tujuan tersebut perasaan apa yang melekat untukmu?

Saya berpikir dan termenung atas pertanyaan yang dilontarkan dosen saya. Dengan tersenyum, dosen saya menjawab kebingungan saya tersebut.

“Kebahagiaan”, sahutnya. Kita hidup untuk mendapat kebahagian, kita semua, anda dan saya.

Tanpa ragu saya setuju dengan pendapat dosen saya. Begini skemanya, saya menyebutkan dalam paper tugas, saya ingin sukses dan jika di simpulkan lagi, sukses akan memberikan rasa kebahagiaan kepada diri kita.

Saya berharap menemukan suatu kebahagiaan dalam sebuah perjalanan hidup, saya percaya bahwa kebahagiaan itu dekat sekali jika saya berusaha dan bersungguh-sungguh. Saat ini saya bukanlah orang yang dapat dikatakan telah memiliki rasa kebahagiaan. Kebahagiaan tidak hanya dianggap mungkin didapatkan oleh setiap orang, kebahagiaan juga diharapkan. Maka saya, bersama jutaan orang lainnya, pasti mengharapkan kebahagiaan.

Mengutip uraian dari buku Eric Weiner mengenai pencarian kebahagiaan;

Perenungan tentang kebahagiaan tentu saja bukan hal baru. Orang yunani dan Romawi Kuno telah banyak merenungkannya. Para filsuf, seperti Aristoteles, Plato, Epicurus dan lain-lainnya memeras otak memikirkan pertanyaan-pertanyaan abadi. Apakah kehidupan yang indah itu? Apakah kesenangan sama dengan kebahagiaan? Lalu ada agama. Apakah agama itu jika bukan petunjuk menuju kebahagiaan? Semuanya ini membantu dan mencerahkan, tetapi ini bukan pengetahuan. Ini adalah pendapat tentang kebahagiaan.

Saya berpikir sejenak memahami isi buku The Geography of Bliss mengenai tempat yang memberikan kebahagiaan, Eric Weiner menguraikan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dari tempat yang menurut kita dapat menyegarkan jiwa, memberi rasa keleluasaan, Ia mencari kebahagiaan dimana berada dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara tetapi tidak ditemukan.

Menurut saya, kebahagiaan bersumber dari diri sendiri. Seperti halnya dengan saya, saya mencari kebahagiaan dengan konsep yang ada dikepala saya.

Saya ingin menjadi seorang nenek yang masih bisa hidup bersama cucu-cucunya, Saya ingin mendidik anak-anak bangsa di pedalaman, Saya ingin mengunjungi Mekkah, India dan Swiss, Saya ingin bekerja dimedia dan/menjadi praktisi media sehingga tetes keringat kedua orang tua saya tidak sia-sia untuk membesarkan saya, Saya ingin memiliki suami yang akan mengajak saya mendaki gunung, dan berbagai keinginan lainnya.

Dengan keinginan-keinginan tersebut, kebahagiaan telah nyata dikehidupan saya. Saat ini, saya sedang sibuk dengan apa yang orang Prancis sebut la chasse au bonheur, “perburuan kebahagiaan”

Iklan