Toba Lake: Another Trip with My Bestfriends

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para sahabat-sahabat saya, dalam rangka meredam rasa rindu karena telah kembali di pisahkan oleh jarak dengan mereka.

Fabulous gank

Fabulous gank

Kita mungkin punya banyak teman, tapi yang sanggup bertahan untuk bener-bener jadi sahabat tidak banyak. Saya telah menjalani hari-hari sekitar 5 tahun lebih bersama mereka. Perlu berslide-slide dan waktu cukup panjang buat bahas semua tentang saya dan mereka. Salah satu problematika yang saya hadapi di usia 20 tahun ini adalah kelangkaan availability sahabat-sahabat terdekat untuk diajak traveling bersama tetapi akhirnya kesempatan tersebut hadir, kami melakukan perjalanan sederhana.

Saya dan Icha yang mencanangkan ide ini sejak lama, kami yang kemudian menyiapkan semua rencana perjalanan dan serius mendiskusikannya dengan beberapa ekor sahabat lainnya. Setelah tahu ingin kemana, kami hitung budget, ini yang penting dan paling penting. Kami bukan nekat traveller yang cuman ngandelin smartphone dengan fitur gps dan jejaring sosialnya. Senekat-nekatnya backpacker pasti butuh duit, dan kami masih pemula. Kami tidak ingin gagal dan mati kesusahan gara-gara kehabisan duit. Budget berat diongkos.

Tiba hari jumat, berhubung ayah saya kerja di daerah Danau Toba, Saya, Lolom dan Iper masih bisa bersantai menuju Parapat karena diantar oleh supir keluarga saya yang akan menjemput Ayah untuk kembali ke Padangsidimpuan. Icha, Elfrida, Fitri dan Emi menuju Parapat dari Kota medan karena mereka masih berada dalam masa-masa kuliah di Universitas Sumatera Utara. Otomatis saya hanya memakai ransel begitu juga dengan kedua teman saya yang dari Padangsidimpuan.

Tepatnya pukul 20.00 rombongan dari Medan telah tiba, saya terkejut dan heran karena mereka membawa sebuah koper besar. Liburan ala backpacker pun buyar dari pikiran saya. lucu abis.

Akhirnya, kami telah berkumpul dan memutuskan untuk makan malam bersama sebelum istirahat. Bergegas kami melahap santapan kami berupa Indomie Goreng beserta nasi karena mahalnya makanan di daerah Parapat. Perlu diketahui, untuk mencari Rumah makan islam di daerah Danau Toba lumayan susah karena mayoritas suku batak toba yang non muslim. Kami menghabiskan malam dengan berfoto, menggosib dan bercanda dalam satu kamar bertujuh.

Mentaripun menampakkan wujud, saya dan enam ekor lainnya mandi dan bersiap-siap menuju Pelabuhan Aji Bata. Dalam perjalanan kami banyak menikmati keindahan alam Danau Toba dan pastinya mengabadikan momen dalam sebuah kamera. Kami menyebrang menuju Tomok dan menari tor-tor disekitar patung sigale-gale. Bergaya bak selebritas dengan make-up tebal (pertama kali bagi saya), kami berkeliling di sekitar Tomok untuk melihat budaya adat batak toba. Kebingungan tak lepas dari kami. Kami ingin menuju Tuk-tuk sedangkan angkutan umum jarang terlihat menuju Tuk-Tuk. Bermodal nekat dan tanya sana sini akhirnya kami menemukan angkutan umum yang harus disewa. Biaya tak terduga

sigale-gale

sigale-gale


Kawasan Tuk-tuk sudah tidak asing bagi saya berbeda dengan keenam sahabat saya. Kawasan yang menyediakan beragam cottage dengan harga terjangkau ini memang telah menjadi daya tarik tersendiri di Danau Toba. Berhubung ayah saya bekerja didaerah Danau Toba, saya sudah sering berkunjung ke kawasan Tuk-tuk.

Tuk-tuk memberikan cerita indah bagi kami, bersepeda di pagi dan sore hari, heboh mencari rumah makan islam, tidur bersama, bersantai, hingga bermain motor air di Danau Toba.

berkeliling tuk-tuk

berkeliling tuk-tuk


Perjalanan pulang bagi saya tidak sebahagia saat berada di Tuk-tuk. Keempat teman saya telah kembali ke Kota Medan sedangkan Saya, Lolom, dan Iper tidak menemukan bus atau angkutan menuju Kota Padangsidimpuan. Bahkan dengan bantuan Ayah sekalipun melalui telepon. Kami terjebak di Parapat dan telah lelah berkeliling mencari cara untuk kembali ke Kota kelahiran. Kami memutuskan menuju Kota Medan dengan biaya minim pastinya jika di Kota Medan banyak angkutan menuju padangsidimpuan.

anak-anak hilang

anak-anak hilang

Lolom begitu kesal dengan ketidaknyamanan ini tetapi saya masih menikmatinya. Kapan lagi? Berdesakan dengan manusia-manusia didalam bus, melihat raut wajah kelelahan orang tua yang mungkin lelah bekerja seharian, bertemu dengan orang-orang yang mungkin sama seperti kami, kebingungan. Kami bagai anak hilang yang bingung antara menyesal atau tidak dengan keputusan menuju Kota Medan.
Tiba di Kota Medan, saya memilih untuk tidur di rumah Fitri sedangkan Lolom dan Iper di rumah saudaranya.

Perjalanan berakhir, saat berkumpul di padangsidimpuan kita semua tersenyum dan tidak percaya. Sebuah kalimat di pikiran saya terdengar β€œIni beneran kita telah liburan bareng?”

Menurut saya, sahabat lebih dari saudara kandung sekalipun. Dengan mereka saya bisa jadi diri saya sendiri dan menyampaikan mimpi-mimpi saya. Sahabat yang membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan berwarna. Bagaimana dengan sahabat-sahabat kalian?

Iklan

3 thoughts on “Toba Lake: Another Trip with My Bestfriends

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s