Bromo tetap menakjubkan

Akhirnya tiba di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bersama teman-teman Sumatera Utara dari Universitas Brawijaya.

Brrr..dingin

Brrr..dingin

teman-teman dari Universitas Brawijaya

teman-teman dari Universitas Brawijaya

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Mahameru yang disebut-sebut puncak abadi para Dewa booming semenjak adanya film 5 CM.

lautan pasir Bromo dipadati oleh pengunjung

lautan pasir Bromo dipadati oleh pengunjung

Bromo

Bromo

Film tentang persahabatan dan pendakian gunung ini memperlihatkan salah satu keindahan Indonesia. Saya lihat di akun sosial media, banyak orang yang telah melihat keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru daripada Mahameru karena akses kesana harus mendaki.

Taman Nasional Bromo Tengger itu sendiri punya panorama cantik, bahkan sekelilingnya seperti lautan pasir.  Motor yang saya tumpangi menjajal aspal. Kontur berganti jadi jalan berliku, dini hari saya telah bergegas menuju Taman Nasional Bromo Tengger. Sekitar tiga jam dari Kota Malang suguhan pertama kali yang kami temui adalah cuaca dingin. Satu pagi di bulan Desember tersebut, saya menggigil di Taman Nasional Bromo Tengger. Dua lapis jaket tak bisa mengalahkan hembusan angin dingin yang menusuk kulit. Mana, mana matahari yang katanya muncul pukul 5 pagi? Alam tidak  mengabulkan keinginan Saya dan teman-teman. Sinar matahari tidak menampakkan wujudnya dari balik bukit. Semburat oranye tidak menggantikan langit biru tua. Kecewa tetapi saya bukanlah satu-satunya mahluk hidup yang sedih sehingga tidak seharusnya berlama-lama termenung.

Tiap pagi, siang, malam, hari kerja, akhir pekan, tahun baru, Taman Nasional bromo Tenger Semeru dijejali warga lokal dan luar Indonesia. Akses menuju Bromo juga tidak sulit di jangkau karena dapat menggunakan Jeep dan motor.

Bromo dan Jeep

Bromo dan Jeep

Suku Tengger yang hidup di kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru juga tetap menjaga kearifan lokal. Mereka menyewakan kuda, Menjadi ojek Bromo dan pastinya menjaga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Lantas saat saya memilih menuju Taman Nasional Bromo Tenger Semeru mengapa Sarkasme soal banyak-pemandangan-yang-lebih-bagus-dari-itu dipersoalkan.

Salah? Tentu tidak

Traveling adalah urusan pribadi, dan saya mengamini itu. Siapa lagi yang merasakan susah-senang traveling kalau bukan diri sendiri?  siapa yang menentukan destinasi, transportasi, akomodasi kalau bukan diri sendiri? Siapa yang dapat pelajaran traveling? Diri sendiri.

Kita berjalan, kita memotret, kita menulis soal traveling. Kita ‘meracuni’ banyak orang untuk keluar dari zona nyaman dan melihat dunia. Come on, there’s always be the first time for everything. Tidak perlu kritik, sinis atau sarkas yang berlebih.

Apa yang lebih berarti daripada tawa jika bukan senyuman? seperti gerimis yang lebih menyenangkan daripada hujan, seperti berjalan yang lebih membuatku tenang daripada berlari dan gelap yang membuatku lebih aman daripada terang.

Semarang punya cerita

Senyum tersungging dari bibirnya. Ibu yang sedang berdiri di samping kami berbicara mengenai Kota Medan dengan Maya. Saya hanya bisa membalas dengan senyum lemah.  Sekujur badan kaku, kepala terasa berat dan tempe mendoan lah obat kelaparan karena tidak sempat makan siang. Kami tiba di daerah Tembalang pukul 17.00 tetapi wajah pria yang sering menyebut dirinya Si Ganteng tidak terlihat.

Saya pun murung.

Hampir satu jam, saya masih duduk diterminal menunggu Si Ganteng menjemput. Tak lama kemudian, Saya tersenyum Sumringah dan berteriak bawel. Yah begitulah batak bertemu batak. Akhirnya Saya, Maya dan Roni rahmad Siregar berkumpul kembali tetapi tidak di Kota padangsidimpuan, ini Jawa tengah masbro mbasis…

Kami menuju kontrakan si Ganteng.

Singkatnya, kami beristirahat dan mengusir Roni dari kamarnya sendiri. Tidak memerlukan guesthouse atau penginapan murah lainnya. Malam hari, kami berkenalan dengan teman-teman Roni. Stranger lagi bernama Gulam dan pacarnya bernama Riska. Kami berlima makan malam seperti sebuah keluarga kecil di Pondok Selasih dengan menu andalan seafood khas Tembalang. Bertemu dengan teman-teman baru membuat saya semakin semangat untuk liburan ke berbagai destinasi lainnya di Indonesa. Suatu saat nanti. Amin.

Malam kami lanjutkan dengan nongkrong-nongrong tidak jelas dan sesi curhat di House of Moo.

susu tinggi dan susu besar di House of Moo

susu tinggi dan susu besar

Sebenarnya saya tidak menyukai susu dan sejenis lainnya tetapi karena paksaan Roni si Ganteng dan Rempong terpaksa saya ikut.  Menahan kantuk membuat saya tidak semangat lagi dan meminta kembali ke kontrakan. Malam Pertama di tembalang, kami habiskan dengan tidur bertiga karena teman si Ganteng tidak di Kontrakan dan kamar dikunci. Saya dan Maya tidur dikasur sedangkan Si Ganteng di tikar.

 

Jumat, 27 Desember 2013.

Kami menyewa mobil salah seorang teman Roni di kampus Universitas Diponegoro selama berlibur beberapa hari di Semarang dan sekitar. Biaya menyewa sekitar Rp 500.000 termasuk bensin dengan Gulam sebagai supir dan Riska sang dewi yang bersedia menemani. Kami menuju sebuah Dataran Tinggi di pinggiran Kota Semarang bernama Umbul Sidomukti untuk memanjakan mata. Birunya langit Jawa Tengah benar-benar tak terbantahkan, saya seperti berada di kerajaan di atas awan. Hanya membayar Rp 10.000,- telah membuat saya merasakan similir angin membelai kulit dengan sejuknya. Ah, perlukah saya mendeskripsikannya terus-menerus?

Saya yang sedari awal semangat untuk bermain flying fox menjadi pesimis saat melihat betapa panjangnya rute flying fox yang membentang di bukit hijau tersebut. Serem. Akhirnya kami bertiga hanya duduk menikmati alam dan bercerita mengenai masa kecil sedangkan Gulam dan Riska tidak terlihat batang hidungnya. Narsis di depan kamera tidak lantas kami lupakan begitu saja.

DSC_0225

Umbul Sidomukti, Jawa Tengah

Umbul Sidomukti, Jawa Tengah

Berhubung shalat Jumat telah selesai, Kami memutuskan untuk berwisata didalam kota . Kami menuju Kota Semarang, pendingin udara di mobil tak mampu mendinginkan otak yang panas karena matahari yang menyinar dengan terik. Tujuan wisata dalam Kota pertama kami adalah mengunjungi sebuah bangunan megah Sam poo kong dengan membayar Rp 4.000,- sebagai uang masuk berhubung Maya berdarah Tionghoa. Konon katanya, Laksamana Cheng Ho pernah mengunjungi Sampookong.

Tiket Masuk Sam Poo Kong

Tiket Masuk Sam Poo Kong

Narsis di Sam Poo Kong

Sam Poo Kong bersama duo usil

 Ketika duduk di sebuah teras , saya  melirik kulit Maya, Kulitnya memerah, kemudian menghitam seketika. Tak jauh berbeda dengan saya. Menyedihkan.

Menyadari Sore yang mulai menghampiri, kami kembali ke mobil untuk mencari kulier khas Semarang. Bakmi Djowo pilihan tepat buat saya sedangkan Maya dan Roni memesan makanan yang berbeda. Selepas makan siang yang super telat, kami menuju sebuah bangunan tua yang telah terkenal bahkan pernah dijadikan sebuah tema film horror.

Lawang sewu.

Yang lucu dari perjalanan kami di Lawang Sewu ini adalah: Kami mengunjungi Lawang Sewu di Sore hari. Sebenarnya saya begitu tertarik untuk mengunjungi Lawang Sewu di malam hari tetapi Maya yang pernah berhubungan dengan dunia mistis tidak berani. Akhirnya bermodal Rp 10.000,- kami memilih mengunjungi Lawang Sewu di sore hari.

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Sisi lain Lawang Sewu

Sisi lain Lawang Sewu

Lawan Sewu berdiri kokoh di tengah Kota Semarang

Lawan Sewu berdiri kokoh di tengah Kota Semarang

Bangunan tua tersebut berdiri kokoh ditengah Kota Semarang sehingga pengunjung begitu ramai dan tidak menyisakan rasa seram.  Baterai Gadget lowbet dan baterai kamera melemah, kami memutuskan untuk tidak terlalu lama mengelilingi lawang Sewu. Saat sedang duduk santai di rerumputan tepat di depan Lawang Sewu, saya dan Roni berantem kecil Yah begitulah.. Siregar bertemu Siregar.

masih di sekitar Lawang Sewu

masih di sekitar Lawang Sewu

Di sela-sela keributan kami, terdengar keseriusan omongan Roni :

“Ntar kalo aku udah sukses aku mau buka usaha bus gitu terus keluargaku, keluarga Maya dan keluargamu Af, kita berlibur bertiga menggunakan bus tersebut”

“Amin”

Lalu kami meluncur menuju Kota Tua, Lokasi syuting Film Gie.  Menurut saya, film fenomenal ini wajib di tonton.
“Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya”  – Soe Hok Gie.

bersama Maya, Gulam dan Riska di kawasan Kota Tua.

bersama Maya, Gulam dan Riska di kawasan Kota Tua.

Bangunan Tua di Kota Tua

Bangunan Tua di Kota Tua

Trio (???)

Trio (???)

Kami mengakhiri malam di Kota Tua menikmati bangunan-bangunan tua yang masih terawat rapi, tak lupa kami mampir ke Alun-Alun Kota Semarang.

DSC_0606

 

Sabtu, 28 Desember 2013

Hari terakhir di Semarang kami meluncur menuju Jepara, Bumi Kartini sekitar dua jam dari Semarang.

Jalanan sepi

Jalanan sepi

 Selepas sarapan nasi pecel, lagi dan lagi nasi pecel, dengan bermodalkan Google Map kami tiba di Pantai Kartini yang memiliki bangunan kura-kura raksasa.

Kura-Kura Raksasa

Kura-Kura Raksasa

Kapal motor yang saya naiki merapat ke sebuah dermaga yang berada di Pulau panjang. Lalu tampaklah pasir putih terhampar, laut biru membentang, beberapa pribumi yang sedang foto pra wedding, dan begitu banyak spot untuk difoto.

Senyum Pepsodent di Pulau Panjang

Senyum Pepsodent di Pulau Panjang

Si Ganteng

Si Ganteng

Sayangnya, waktu tidak memberikan kami kebebasan untuk menikmati pantai sepanjang hari karena waktu yang minim. Bahkan untuk ke Karimun Jawa sekalipun kami tidak memiliki waktu.

Jadilah disuatu siang yang cerah, saya tidak jadi menggelepar di pantai Pulau Panjang, tidak jadi menyumpal kedua telinga dengan earphone, tidak jadi memandangi langit pagi dengan bantuan kacamata hitam. Sungguh pagi yang menyedihkan karena kebodohan kami berempat.

Salah satu pantai di Jepara

Salah satu pantai di Jepara

Kebodohan kami yang membuang waktu berkeliling pulau panjang dengan sia-sia karena berharap menemukan pantai yang lebih bagus hasilnya kami hanya mengelilingi pulau panjang .

“Sini aku yang bawa acaranya eceknya kita jurnalis perjalanan gitu”

“yaudah aku video ya”

“Hay kami sekarang berada di Pulau Panjaaaaaaaaang”

“Ku video ya jerawatnya ku zoom ya”

“Ah mantaklah!”

Terdengar keributan saya dan Roni, Maya yang hanya tertawa dan Gulam yang berasa finalis stand up comedy terlihat lucu dengan leluconnya. Betapa lucu teman-teman sialan ini…

Singkat cerita, kami makan disebuah restoran mahal di kawasan pantai Kartini. Saking Mahalnya Gulam hanya memesan telor dadar dan Nasi, saya dan Maya makan Ikan Bakar sepiring berdua dan si Rempong Roni yang menyebalkan makan dengan puasnya. Maklum, Orang Kaya.

Ikan Bakar berdua

Ikan Bakar berdua

Perjalanan kembali ke Semarang lumayan jauh dan rutenya membuat badan pegal. Pada saat Roni, Maya dan Gulam heboh ngebut karena takut saya dan Maya ketinggalan Bus, saya hanya asik menghabisan waktu dimobil dengan tidur.  Lebih baik tidur daripada berdebat dengan Roni, si Ganteng dan Rempong. Mungkin, berpatner dengan saya telah membuat Maya  terbiasa dengan jadwal tidur saya yang panjang. Mungkin, Lalat Tse-tse terbang khusus dari Afrika untuk menghisap darah saya sehingga menjadi pecandu tidur.

Tiba di Semarang.

Berpisah dengan Roni dan Gulam kembali menyisakan kesedihan, tak ada lagi sosok sok Ganteng yang mengikuti perjalanan kami. Akses menuju Kota Malang tidak saya ketahui karena saya tertidur pulas di bus.

A Better Partner

Akhirnya saya kembali menulis setelah sekitar dua bulan terdampar di rumah dan menghilang sementara dari blog. Saya ingin menulis makna perjalanan liburan untuk saya sendiri di blog ini, tak peduli ada yang baca atau tidak, saya hanya berbagi.
For me, Travelling always bring a happy and always make me a better person.

Selasa, 24 Desember 2013.

Betapa Kota Seni itu di deskripsikan dengan sangat apik oleh Kla Project dalam lagu Yogyakarta. Saya adalah salah satu korbannya, terbuai dalam imajinasi tak berkesudahan sehingga membuat saya tidak bosan untuk kembali ketiga kalinya ke kota Yogyakarta.

Pukul 04.00 dini hari, Saya dan sahabat saya, Maya Masyita Karnain Nasution bersiap untuk menuju Stasiun Kereta Api Kiara Condong yang berada tidak jauh dari Jatinangor. Kami memilih menggunakan kereta api kelas ekonomi karena harga tiket merupakan harga mahasiswa hanya Rp 60.000 tergolong murah, bukan? Berkat bantuan senior saya di Ikatan Mahasiswa Tapanuli Bagian Selatan (Imatabagsel) kami tiba di Stasiun pukul 05.00 menempuh sekitar 45 menit dengan kondisi Bandung yang dingin. Urusan duduk dikereta tak semulus seharusnya. Sekitar dua jam duduk manis, saya dan maya di peringatkan oleh petugas karena salah menempati bangku kereta. Saya tersenyum sambil menghela nafas karena menahan rasa malu. Anggaplah salah duduk dikereta itu sebagai pemanasan liburan.

Dan Tiba.

Hujan mulai turun, Jam tangan menunjukkan pukul 14.00. Saya dan Maya bergegas keluar dari Stasiun Lempuyangan untuk mencari penginapan di sekitar Malioboro. Bapak tukang becak menghampiri dengan tersenyum riang dan menawarkan Rp 15.000,- hingga kami menemukan penginapan murah. Aji Guest House , kami beruntung menemukan guesthouse yang lumayan murah dan nyaman. Perjalanan 8 jam melewati jalur darat membuat badan pegal dan kepala pusing bukan kepalang. Kami memutuskan untuk istirahat sementara. Sudah pukul 16.30 waktu setempat dan perut mulai keroncongan. Kami meninggalkan ransel di penginapan lalu menuju Malioboro untuk berpetualang. Kami sempatkan jalan-jalan sepanjang Malioboro termasuk Pasar Beringharjo untuk merasakan suasana beda dari kawasan yang selalu membuat saya jatuh cinta. Penjaja makanan dan pembeli sama banyaknya, sama-sama ramai. Kami membaur dengan membeli Pecel khas Yogyakarta hanya Rp 7.000 dan enak!

Pecel Van Pasar Beringharjo

Pecel Van Pasar Beringharjo

Rintik hujan masih terlihat, perut terisi dan tenaga kembali. Kami melanjutkan jalan-jalan sore menuju Benteng Vredeburg dan berfoto dibanyak tempat.
Kami menyempatkan berkeliling pasar dan jalanan untuk membeli oleh-oleh buat keluarga Maya. Saya hanya membeli batik buat Ompung dan Ibu, selain karena rasa takut akan ransel yang berat dengan oleh-oleh, keluarga saya juga telah berlibur ke Yogyakarta sekitar Juni 2013 sehingga tidak perlu membawa oleh-oleh yan berlebihan. Malamnya, kami mangkal di Jalan malioboro dengan teman-teman saya. Icha yang sedang liburan di Yogyakarta bersama Keluarga dari Padangsidimpuan dan Iza yang Kuliah di Yogyakarta.

Kawasan Malioboro

Kawasan Malioboro


Bersama Iza dan Icha

Bersama Iza dan Icha

Malam panjang kami lalui dengan berfoto lalu bercengkrama dengan bahasa batak dan malioboro menjadi saksinya.

Rabu, 25 Desember 2013.

Natal. Jalanan sepi. Rintikan gerimis masih membasahi Yogyakarta.

Jalan Malioboro

Jalan Malioboro

Kami menuju Kraton Ngayogyakarta. Menurut saya, Kraton Ngayogyakarta begitu sakral dan mistis bahkan perempuan yang sedang halangan tidak diperbolehkan masuk.

DSC_0094

Masih di Keraton Ngayogyakarta

Masih di Keraton Ngayogyakarta

Jika ingin masuk dan berfoto dikenakan biaya masuk dan kamera. Hanya setengah jam berada di Kraton Ngayogyakarta kami kembali ke Malioboro untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan. Naik TransJogja Rp 5.000,- kami tiba di kawasan candi Prambanan. Perlu diketahui untuk kendaraan umum sendiri di Yogyakarta hanya menggunakan Becak, Ojek dan TransJogja. Uang masuk candi Prambanan sebesar Rp 30.000 dan diberikan sebuah kain untuk di ikatkan di paha.

Candi Prambanan

Candi Prambanan


Prambanan Card

Prambanan Card

Saya juga tidak mengerti dan hanya mengikuti instruksi petugas. Keliling Candi Prambanan dan merhatiin satu persatu reliefnya, duduk-duduk santai sambil melihat orang yang berfoto dan bosan. Kami kembali ke kawasan malioboro dengan menggunakan TransJogja bahkan saya sempat tertidur di dalam bus.
Bangun tidur saya telah berada di Malioboro dan dalam keadaan lapar. Angkringan di depan Benten Vredeburg menjadi sasaran utama untuk makan siang kami yang super terlambat. Puas dan murah.

Biaya liburan yang seadanya mengharuskan kami untuk pindah penginapan. Check out dari penginapan lalu kami menuju kos Iza yang berada d sekitar Sekolah Tinggi Tekhnologi Adisucipto. Tidak sulit mencari kos Iza karena sebelumnya saya pernah menginap di malam tahun baru 2013 bersama teman-teman batak. Akhirnya saya tidur duluan mungkin karena terlalu lelah.

Kamis, 26 Desember 2013.

Mentari sedang riang. Sengatannya terasa sampai ke tulang. Saya, Maya, Iza dan seorang temannya bernama Hapis, stranger pertama yang siap menemani kami sebelum menuju Kota Semarang. Ah, ransel semakin terasa berat karena duduk di atas motor. Kami memutuskan untuk mengisi tenaga di sebuah rumah makan terkenal di Yogyakarta. Ada kalimat yang berkembang di Mahasiswa yang berkunjung ke Yogyakarta, “Belum ke Yogyakarta namanya jika belum mampir ke Raminten”. Beragam menu makanan di Raminten membuat saya tertawa lepas, nama menu-menu tersebut tidak terlepas dari kehidupan seksual manusia. Ah Lupakan.

Menu di Raminten

Menu di Raminten


The House of Raminten

The House of Raminten

Walaupun begitu tidak ada salahnya jika anda mencoba ke Raminten jika berkunjung ke Yogyakarta. Harga yang ditawarkan termasuk murah dengan makanan lezat khas Indonesia.

Akhirnya tiba di penghujung cerita mengenai Yogyakarta, perpisahan dengan Iza di Terminal Giwangan menyisakan sedih tetapi begitulah hidup dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan.

Menuju Terminal Giwangan

Menuju Terminal Giwangan

Kami menuju Kota Semarang dengan biaya bus Rp 45.000. Sampai bertemu di lain waktu, Yogyakarta.

Menyapa Pengungsi Sinabung

Meletusnya Sinabung telah mengagetkan masyarakat Indonesia terutama saya yang berasal dari Sumatera Utara. Sejak Sinabung pertama kali erupsi saya tertarik untuk mengunjungi posko pengungsian di kawasan Tanah Karo. Sayangnya, keinginan saya tersebut terhalang oleh kedua orang tua dan tidak adanya teman yang ingin menemani saya menuju posko pengungsian.

Akhirnya, Sabtu, 22 Februari 2014 kesempatan untuk bertatap muka dengan para pengungsi hadir. Saya menyapa para pengungsi bersama seorang teman saya yang akan menyalurkan bantuan ke posko pengungsian. Satu siang yang cerah, bus kecil melipir di jalanan Kota Medan menuju Kabanjahe. Perjalanan menuju Kabanjahe memakan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan bus kecil. Bus kecil yang kami tumpangi meliuk di jalan berliku, tanjakan dan turunan.

Tiba di Kabanjahe, kami menuju posko pengungsian yang berada di sebuah Mesjid. Para pengungsi sebanyak 260 lebih keluarga melebur menjadi satu di area Mesjid Agung walaupun terdapat perbedaan agama di antara mereka. Selepas dzuhur kami menghampiri seorang Bapak yang bertugas menerima bantuan. Bantuan berupa uang tunai sebesar Rp 12.000.000,- yang telah digalang oleh Kelompok Pecinta Alam yang bergerak di Kota Padangsidimpuan dan fiskuspeduli yang tersebar di seluruh Indonesia. Perasaan sedih senantiasa hinggap karena ada hal yang saya sesali. Saya tidak dapat memberikan bantuan berupa uang tunai, baju atau sembako kecuali doa tapi biarlah perjalanan kemarin menjadi pelajaran. Let me be a better person.

Gambar

Saat akan menyalurkan bantuan kami berdiri dihadapan para pengungsi dan di tepuk tangani oleh pengungsi. Mereka terlihat begitu bahagia menerima bantuan, saya merasa terharu. Hal-hal lucu juga tak luput dalam kunjungan kami tersebut. Seorang Ibu yang bercerita mengenai asal-usulnya menetap di kawasan Sinabung dengan logat kental karo hingga hal dimana antusiasnya seorang Bapak bergaya saat difoto untuk dijadikan dokumentasi. Memang, Tuhan selalu menyisipkan senyuman dibalik bencana.

Terimakasih Tuhan untuk tidak menutup mataku, untuk tetap membiarkan hatiku merasa dan untuk tetap memberikan kepedulian ini kepadaku.