song thai hostel

   
   

One of the great thing about travel is that you find out how many good kind people there are.

Dlm perjalanan traveling di Bangkok, Thailand, saya bertemu banyak orang baik salah satunya Ibu pemilik guethouse Song Thai tempat kami menginap. Lokasi guesthousenya cukup strategis, dekat dengan lokasi BTS Surasak. Dengan mengangkat konsep rumah tradisional khas Thailand, yang menggunakan kayu sebagai bahan bangunannya, guesthouse ini jd terasa artistik dan hawa didalam rumah jadi adem. 

Suasana guesthouse seperti di rumah sendiri, bisa menikmati minuman seperti kopi, teh, atau susu di lobi, tapi semua self-service. Bagi yang suka ke masjid bisa ikut shalat di Masjid Jawa karena dekat sekali. 

Si Ibu pemiliki guesthouse juga bisa bahasa Melayu meskipun Melayunya Melayu Thailand (Daerah Pattani, Yala). Ibu juga memberikan kami oleh-oleh berupa kripik utk dibawa pulang. Saya acungi dua jempol untuk Song Thai.

Why Travel; Why Not?

   
   
   
Kalo kata temen, “Jalan-jalan mulu Din, banyak duit ya?”

Gue mungkin show on jalan-jalan gue karena gue happy dan pengen share ke semua orang agar mereka percaya kalo dimana ada keinginan, disitu ada jalan (dan tiket promo) haha, tapi apakah gue kesusahan kuliah dan nabung harus gue share terus? hehehe.

Weekend juga jarang hedon di kafe atau nonton konser, paling banter nonton bioskop (itupun di bioskop yang tiketnya murah hahaha gamau rugi pasti jatos), makan juga jarang banget yang mewah-mewah, kecuali ada moment tertentu, gue juga bukan pribadi yg suka keramaian, gue mmg ga habis pikir ngapain ngabisin waktu ootd cantik cuma buat nongkrong dicafe dan gosip. Bye. 

Di balik foto-foto senyum riang gembira, banyak kesusahan juga di baliknya…

Di balik check in di ibukota negara-negara, ada merana hemat anak kos sekaligus kerja sampingan jualin tiket.

Di balik foto-foto kece di luar negeri, ada pertanyaan Mama “baju kau kok itu aja? Pake dress jangan kemeja ajalah inang” “jilbab kau ga ada lagi yg lebih bagus warnanya?” yang biasa gue jawab “gpp loo ma, yang penting cantik, mau pake baju robek2 juga tetep cantik kan hahahaha”

Di balik duduk dan makan enak di pesawat, ada air mata yang jatuh saat menunggu bus atau angkot, karena hemat jatah bulanan.

“Terus gimana caranya bisa jalan-jalan terus? Apakah prioritas lo itu travelling?” Ada yang pernah nanya gitu juga ke gue

Gue bilang “Prioritas gue gak melulu travelling ko. Tapi gue berpikir mumpung gue masih muda dan belom banyak tanggungan (anak, atau cicilan rumah, mobil, etc) Jadi ini adalah saat yang tepat untuk gue traveling, melihat dunia dengan mata sendiri, gak cuma liat di wallpaper laptop atau foto-foto di instagram lonely planet.”

Karena akan datang saatnya gue harus meminta izin sama suami gue kalau gue mau melangkahkan kaki ke luar rumah.

Karena nanti akan ada saatnya gue sibuk nyari uang untuk biaya pendidikan anak-anak gue, atau mungkin jadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab ngurus anak-anak gue sendiri di rumah, bukan ngasihin ke pembantu atau ke orang tua gue.

Karena nanti akan ada saatnya dimana kaki gue terlalu lelah untuk berjalan, badan gue terlalu letih untuk seharian keliling kota atau snorkling di pantai.

Gue mau nanti gue punya banyak cerita ke anak gue, “never give up on your dreams dan bermimpilah setinggi mungkin”, mau kuliah di luar negeri, dapet beasiswa ataupun hasil kerja keras sendiri, atau mau traveling dan melihat dunia dengan mata sendiri, biar gak jadi orang yang berpikiran sempit, apalagi menganggap orang lain “pamer” karena ngeshare foto-foto liburan mereka, padahal mereka justru ingin berbagi karena ingin orang lain terinspirasi dan yakin kalau mereka mau pasti ada jalan, untuk apapun itu (in a good way).

Gue mau anak gue tau walaupun perempuan, tapi harus mandiri, harus berani kemanapun sendiri dan pastinya harus bisa menghasilkan uang sendiri (kayak gue skrg still jobless tapi tetep usaha) dan tidak tergantung sama orang lain.

Dan karena traveling sedikit banyak menyadarkan gue bahwa banyak yang gue dapet dari traveling. Jadi lebih percaya diri, berani keluar dari comfort zone, lebih bersyukur dengan apa yang gue punya, lebih mandiri, lebih bisa adaptasi dengan baik, gak judgmental dan bisa menerima perbedaan, dan pastinya mengurangi stress berlebihan gue krn kuliah dulu.

Gue bahagia walaupun gue harus gendong-gendong backpack 10kg ke berbagai kota, backpain plus lagi period (kebayang ga nyerinya?).. Nyiapin itinerary, Capeekk, tapi pengalaman gue bertambah:)

Menyoal Kebebasan dan Lirik ‘Donna Donna’

“Calves are easily bound and slaughtered. Never knowing the reason why. whoever treasures freedom. Like the swallow has learned to fly.”

Rintik hujan menemani langkah saya berlari mengejar Bus Damri menuju Kota Bandung. Sore hari, 20 Januari 2016, setiba di dalam Bus saya tersontak kagum dan terhanyut dalam buaian nyanyian Bapak pengamen di dalam Bus Damri.

Lagu tersebut begitu tidak asing bergegas saya periksa galeri musik pada gadget, Benar, lagu tersebut adalah lagu Donna Donna yang dinyanyikan ulang oleh Joan Baez dan dinyanyikan ulang oleh Sita RSD untuk soundtrack film Gie di Indonesia. Lantas saya teringat akan film Gie, setiba di kos saya menonton ulang kembali dan memperhatikan scene dimana nyanyian Donna Donna-nya Sita RSD mengalun.

hqdefault

Sita menyanyikan Lagu Donna Donna

 

gie01

Soe Hok Gie yang diperankan Nicholas Saputra

Ada sebuah scene dalam film Gie, Gie menganalisa dan mengartikan arti lirik seperti uraian berikut;

“Kita tidak boleh menerima nasib buruk dan menganggapnya sebagai jalan hidup yang telah ditentukan bagi kita, pasrah menerimanya sebagai kutukan. Kalo kita ingin hidup bebas, kita harus belajar terbang.”

Saya tidak dapat memberi penafsiran yang tepat untuk lagu ini. Saya sama sekali tidak tahu apa yang pencipta lagu ini ingin ungkapan bahkan apa yang ingin Ia sampaikan. Apa yang saya tulis disini hanya sebatas pemikiran pribadi karena telah menonton film Gie dan membaca buku Catatan Seorang Demonstran . Apa pendapat saya di blog ini dan apa yang saya rasakan waktu mendengarnya merupakan sebuah pendapat pribadi.
Lagu ini merupakan lagu yang bertemakan dan berinti terhadap kebebasan. Tentang kebebasan dan sebuah nasib. Tentang hak kita dalam hidup, dalam menentukan pilihan dan harus berubah, berbuat, bertindak dan memilih yang baik. Lagu ini tentang ketidakberdayaan seseorang dalam menerima nasib dan bagaimana mengubahnya.
Pendapat ini mengalir masih dengan bantuan film Gie, saya melihat scene dimana Sita menyanyikan lagu ini dihadapan para mahasiswa. Mungkin, Sita ingin mengajak para mahasiswa untuk bebas, bersuara, bertindak dan melawan rezim yang berkuasa karena mahasiswa memiliki peranan penting dalam sebuah bangsa. Mungkin, Sita ingin menciptakan para reformator-reformator dan jiwa founding father dalam jiwa para mahasiswa. Mahasiswa, merupakan satu kata yang menarik dari gabungan kata tersebut adalah kata “Maha” yang artinya besar. Jika diartikan secara keseluruhan, berarti seorang pelajar yang sudah besar, baik besar pemikirannya maupun besar tekadnya untuk memanfaatkan ilmunya agar berguna untuk seluruh umat di muka bumi ini.

 

Saya tidak puas dengan pendapat pribadi ini, lalu saya mencoba mencari darimana dan bagaimana berasalnya lirik Lagu Donna Donna ini, saya uraikan dibawah ini dengan mengutip informasi dari wikipedia :
Dona-dona adalah lagu yang sempat dibumikan di negeri merah putih ini, tepatnya pada film Gie pada tahun 2008, yang digambarkan sebagai lagu kesukaan Soe Hok Gie. Lagu ini menggambarkan teriakan anak sapi yang terkekang di atas kereta yang akan di bawa ketempat pembantaian, dan anak sapi ini adalah sang penulisnya yang hidup pada masa kejayaan Nazi di jerman. Dona-dona sama dengan Dana Dana, dikenal juga sebagai Dos Kelbl, yaitu The Calf atau Anak Sapi. Dan dalam kamus yahudi dona adalah nama lain dari Adolai yaitu nama lain dari yahudi untuk memanggil-manggil Tuhan mereka.
 Lagu ini diterjamahkan dari bahasa Yiddish yang ditulis oleh Aaron Zeitlin dan dikomposeri oleh Sholom Secunda yang berjudul Dana. Aaron Zeitlin (1898-1973) sendiri adalah anak dari sastrawan Yahudi, Hillel Zeitlin, tulisanya tentang sastra Yiddish, puisi dan para psikologi. Sedangkan Sholom Secunda (1894-1974) adalah seorang komposer Yahudi kelahiran Ukraina yang mengenyam pendidikan di Amerika. Dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, Prancis, Ibrani, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris.
 Untuk bahasa inggris, pada mulanya diterjemahkan oleh sang komposernya sendiri Sholom Secunda, dengan mengganti kata “Dana”, menjadi “Donna”. Namun terjemahannya membuat lagu ini seakan tidak terlantunkan lagi. Sampai di pertengahan 1950-an lirik lagu ini diterjemahkan kembali oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz. dan menjadi populer setelah dinyanyikan oleh Joan Baez pada tahun 1960.
 Dalam salah satu penggalan liriknya “On a wagon bound for market/ there’s a calf with a mournful eye / High above him there’s a swallow / winging swiftly through the sky. Menggambarkan anak sapi yang didalam satu kereta kuda yang menuju ke pasar; dengan mata berduka; diatasnya ada burung; terbang cepat mengarungi langit. Sedangkan sapi itu menuju ketempat penjagalan. Sapi tersebut iri kepada burung-burung yang bisa terbang bebas dan kebebasan atas segala-galanya tanpa kekangan dengan jiwa yang merdeka.
Latar belakang penulisan lirik asli lagu ini tidak luput dari pengalaman penulisnya yang merupakan anak seorang Yahudi keturunan Khazar dari negara Khazaria, terletak diantara Laut Hitam dan Laut Kaspia yang sekarang dimiliki oleh negara Georgia. Pada waktu itu ia menggambarkan kejadian ayah kandungnya yang diseret oleh tentara Nazi untuk dibawa ke kamp konsentrasi Yahudi. Ia tidak bisa berbuat banyak, kecuali bersembunyi dibalik dinding-dinding. Dan menulis kejadian yang dialaminya dalam buku hariannya setelah beberapa waktu.
Dalam catatanya, sang tani membawa sapi-sapi (yahudi) bukan untuk diperkerjakan tapi untuk dimusnahkan. Karena sapi merupakan keyakianan penguasa saat itu yang ambigu antara mitos dan realita yang akan meruntuhkan singgasananya. Dan kemudian catatan ini di jadikan lagu teater Yidish. Dan Yidish sendiri adalah sebuah bahasa kelas atas Jerman yaitu bahasa Yahudi Ashkenazi. (wiki)
On a Weagon bound the market
Di sebuah gerbong yang membatasi pasar
There’s a calf with a mournful eye
Ada seekor anak sapi dengan mata yang berdukaHigh above him there’s a swallow
Jauh tinggi diatasnya ada seekor burung layang layang

Winging swiftly through the sky
mengepakkan sayap dengan cepat melintasi angkasa
How the winds are laughin
Betapa angin angin itu tertawaThey laugh with all they might
mereka tertawa sekuat mereka

Laugh and laugh the whole day through
Tertawa dan tertawa sepanjang hari

And half the summers nigh
serta separuh malam musim panas

(Chorus)
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna DonnaDonna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Don

Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Donna

Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Don

“Stop complaining!” Said the farmer
“Berhentilah mengeluh!”,kata si Petani

Who told you a calf to be?
Siapa suruh jadi anak sapi?

Why don’t you have wings to fly with
Kenapa tak kau punyai sayap untuk terbang?

Like the swallow so proud and free?
Seperti burung layang layang, sangat bangga dan bebasCalves are easily bound and slaughtered
Anak anak sapi mudah diikat dan dibunuh

Never knowing the reason why
tanpa tahu alasannya

But whoever treasures freedom
Tapi siapapun yang mencari kebebasan

Like the swallow has learned to fly
seperti burung layang layang, harus belajar terbang

Ternyata benar lagu ini tentang Kebebasan. Menyoal Lagu tersebut yang berasal dari bangsa Yahudi, saya tidak peduli dan tetap menyukai lagu ini (banyak pro-kontra karena lagu ini dari bangsa Yahudi). Sekarang saya tahu, dan sudah memutuskan untuk memilih jadi burung layang layang. Seorang mahasiswa yang akan belajar seperti burung layang-layang yang belajar terbang.

 

 

Mencicipi Mie Jalak dan Sate Gurita di Sabang

Berbincang-bincang makanan dengan Bang Amat bermula dengan rasa penasaranku tentang kudapan khas Sabang yang aku temui di beberapa Travel Blog, yaitu Mie Jalak dan Sate Gurita, nama yang unikkan?

Bang Amat bergegas membawa kami menuju Toko Pulau Baru di jalan Perdagangan, Kota Sabang.  Dari kejauhan, aku mengira bahwa Toko Pulau Baru hanya kedai kopi tetapi saat memasukinya, kepulan asap dari mie rebus mulai memantik selera makan.

Kawasan ini masih seperti kawasan unik dengan setting kota zaman dahulu. Mie Jalak sudah terkenal sejak tempo dulu dan identik sebagai kudapan khas Kota Sabang. Melalui rujukan yang ku baca, nama mie jalak sendiri berasal dari julukan Pak Sukianto hen, pemilik Toko Pulau Baru Mie jalak. Mie Jalak merupakan bisnis keluarga turun temurun, Mie Jalak dibuat sendiri dan hanya satu-satunya di Kota Sabang. Kuah Bening kental dan dibagian atas Mie ditaburi dengan potongan-potongan ikan yang dbentuk dadu. Rasanya? Tidak perlu ku jelaskan panjang lebar. Enak!

Mie Jalak

Mie Jalak 

Satu porsi Mie Jalak yang ku nikmati di hargai Rp 12.000, harga yang bersahabat untuk pelancong hemat sepertiku. Hampir setiap hari Toko Mie Jalak Pulau Baru di padati pelancong, warga juga tidak ikut ketinggalan. Selain rasa yag khas, Mie Jalak tak ada di tempat lain. Hanya ada di Kota Sabang, sama halnya dengan Sate Gurita.

Sate Gurita

Sate Gurita

Sate Gurita merupakan kudapan khas Sabang, gurihnya potongan-potongan daging gurita panggang dari perairan Weh. Salah satu lokasinya berada di Pusat Jajanan Sabang Fair. Berbeda dengan Mie jalak, penjual Sate Gurita lumayan banyak.

Taman di Sabang Fair

Taman di Sabang Fair

Aku menikmati Sate Gurita sambil menunggu Senja Kota Sabang yang tidak ingin memperlihatkan wujudnya di Taman Sabang Fair bersama dengan keramaian warga. Daerah yang dikelilingi lautan ternyata juga dikelilingi kuliner yang mengungah selera makan. Jika perut anda keroncongan usai jalan-jalan, tak ada salahnya untuk mencoba Mie Jalak dan Sate Gurita yang menjadi penganan wajib di Kota Sabang.

JATUH CINTA PADA IBOIH

(24/08/2015) Selamat datang di Tanah Rencong!

Matahari yang cerah menyambut kedatangan kami di Terminal Batoh, Banda Aceh. Lelah menyelimuti masing-masing dari kami karena hampir 10 jam berada di bus Sempati Star. Syukurlah kami tiba juga di tanah rencong.

Tiba di Banda Aceh bukan berarti kami sudah tiba pada tujuan awal, Kota Sabang di Pulau Weh. Kami masih harus melanjutkan perjalanan darat dan laut. Pelabuhan Ulee Lheu berada cukup jauh dari Terminal Batoh, kami memutuskan untuk memilih moda transportasi taksi. Berhubung kami berempat, biaya yang dikeluarkan untuk naik taksi tidak terlalu mahal.

Beruntungnya kami berkenalan dengan Bang Sapri saat tiba di Pelabuhan Ulee Lheu. Bang Sapri dengan ramah menawarkan paket perjalanan wisata mengelilingi Banda Aceh kepada kami, kami lantas menerima pastinya dengan nego harga terlebih dahulu. Ohya, supir taksi yang membewa kami ke Pelabuhan Ulee Lheu memberikan kontak seseorang yang dapat kami hubungi jika kesulitan di Sabang. Sebelum menaiki kapal, kami terlebih dahulu sarapan di sekitar pelabuhan. Sialnya, kami tidak langsung bertanya kepada pihak pelabuhan mengenai kapal yang akan berangkat malah bertanya kepada Mbak-mbak penjual Lontong dan Nasi Gurih. Akhirnya, kami ditipu mengenai jadwal keberangkatan Kapal Lambat dan mengikhlaskan ketinggalan Kapal Lambat.

Jumlah Kapal Lambat yang sedikit menjadi kendala untuk tiba di Pelabuhan Balohan dengan biaya murah. Kapal cepat tersedia banyak, tetapi lumayan mahal sekitar 75.000. Kapal lambat akan berangkat kembali di sore hari sedangkan kami tiba di Pelabuhan Ulee Lheu di waktu pagi. Rasa tak sabar menunggu membuat kami memutusan untuk mengunakan Kapal Cepat walaupun mahal dengan catatan saat kembali ke Pelabuhan Ulee Lheu kami harus menggunakan Kapal lambat yang hanya Rp 25.000.

Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba dengan di Pelabuhan Balohan.

Pagi itu kami langsung bertemu dengan Bang Amat. Bayangan cantiknya Pantai di Pulau Weh langsung hinggap di kepala. Pada awalnya kami tidak ingin menggunakan jasa Bang Amat sebagai travel pariwisata di Sabang. Mengingat jalanan di Sabang dikelilingi jurang curam dan kami berempat hanya perempuan, kami memutuskan menyewa jasa Bang Amat selama berada di Pulau Weh. Bayangan perjalanan menggunakan motor selama di Pulau Weh di buang jauh-jauh. Perjalanan pertama kami menuju Pantai Iboih. Sepanjang perjalanan menuju Pantai Iboih jarang kami temukan motor apalagi mobil Jalanan benar-benar sepi, tak ada macet sedikitpun.

Walau berkelok-kelok, jalanan menuju Pantai Iboih beraspal mulus. Saya menikmati pemandangan hutan yang berkabut tebal. Tak perlu menghidupkan Air Conditioner karena cukup membuka kaca mobil, kami sudah dibelai dengan udara dingin sejuk. Wajah lelah saya yang tadinya semendung langit yang akan hujan berubah cerah begitu tiba di Pantai Iboih.

Erick Green Hostel, begitu nama hostel tempat kami menginap.

Erick Green House

Erick Green House

Saya langsung senang karena kamarnya luas, tempat tidurnya double dengan sprei yang bersih, Balkonnya dilengkapi kursi santai dan pintu antara kamar dan balkon bisa dibuka lebar sehingga tidak berasa ada pembatasnya. Interior kamarnya memang sederhana, hanya berwarna putih tanpa ada lukisan atau apapun tergantung di dinding. Saya tak berhenti berdecak kagum karena terumbu karang yang ada disekitar kamar saja sudah bagus dan menawan hati, apalagi spot snorkling yang lain.

Saya lalu mengganti baju agar makan siang dan langsung snorkling di Pulau Rubiah. Makan siang saya di sponsori oleh Ikan goreng khas lautan Sabang. Perut kenyang, hati senang dan saya tidak sabar ingin berenang.

Menuju Pulau Rubiah

Menuju Pulau Rubiah

Saya yang memang sudah tidak sabar ingin menceburkan diri ke air karena panas berlama-lama di atas kapal saat menuju Pulau Rubiah langsung meluapkannya dengan berendam kesana-kemari. Airnya jernih membuat kita bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan tanpa harus menyeburkan diri.

snorkling di pulau rubiah

snorkling di pulau rubiah

Dari cerita abang Snorkling Guide, jika dipagi hari air bisa lebih jernih dan foto akan lebih bagus. Saya tidak cukup puas dengan hasil snorkling hari itu karena dilakukan di sore hari dan terlalu ramai. Sedih betul rasanya. Tapi bagaimanapun, kami tidak mungkin mengulang snorkling esok hari mengingat waktu yang tidak banyak. Saya harus kembali secepatnya ke Jatinanor karena perkuliahan akan kembali aktif setelah libur panjang. Walaupun begitu, pemandangan bawah laut Rubiah Island memang membuat saya berdecak kagum, Beragam jenis terumbu karang berbagai warna yang dilewati ikan-ikan karang cantik benar-benar memanjakan saya.

saya bersama ikan dan terumbu karang

saya bersama ikan dan terumbu karang

Jam 5 sore kami sudah kembali ke hostel, bebersih diri dan bersantai menikmati sore di balkon menunggu senja yang tak kunjung datang. Langit sore itu agak mendung namun semburat senja merah masih terlihat sedikit dibalik awan. Apalagi yang bisa saya katakan selain mengucap syukur.

senja yang malu-malu

senja yang malu-malu

Kami menghabiskan malam dengan menyantap kudapan khas tanah rencong di warung yang berada disamping hostel. Walau hanya Roti Cane dan Martabak Telor, karena di santapnya sehabis lelah berenang, nikmatnya berkali-kali lipat. Ditambah dengan pemandangan Bule ganteng yang mondar mandir serta teh manis yang menghangatkan tubuh kami yang kedinginan dan kelelahan. Setelah puas, kami kembali kekamar untuk tidur cepat karena esok akan lebih menarik.

(25/08/2015) Pagi yang malas untuk bangun dari tempat tidur.

Dari bilik-bilik pintu kamar terlihat cahaya matahari memanggil, saya bergegas membuka pintu kamar. Hamparan lautan dipeluk kabut. Pagi itu, nampaknya matahari malu memperlihatkan wujudnya. Suasana liburan di pantai sudah terasa, langit semakin merekah.

DSC_0584

Kemarin sebelum kembali ke hostel, kami berbincang dengan abang snorkling guide, kami disarankan untuk sarapan ke Iboih Inn sebelum meninggalkan kawasan pantai Iboih. Kami berempat bergegas ke Iboih Inn dan bersantai sejenak.

Iboih Inn, hostel terkenal di Sabang.

Iboih Inn, hostel terkenal di Sabang.


bersantai sejenak di balkon Iboih Inn

bersantai sejenak di balkon Iboih Inn

 
Setelah puas berfoto di Iboih Inn, kami kembali ke Hostel untuk bersiap-siap karena akan menempuh perjalanan mengelilingi Sabang. Jadi siapa yang tidak jatuh cinta dengan Iboih?

Teruntuk Ayah

  

Tangan kokoh beliau lah yang pertama kali menyambut titipan Tuhan menatap dunia. Dengan tangan yang sama, Ia menuntun seorang gadis kecil belajar berjalan menapaki tanah. Ketika tangis memecah tawa, tangan tersebut berhasil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi anak pertamanya. Tangan kasarnya yang telah berhasil menghidupi saya menjadi seorang perempuan dewasa. Dan tangan tersebutlah yang akan menghantarkan saya untuk hidup bersama dia imam saya, nantinya.

Selamat ulang tahun Papa. Tidak pernah sedikitpun terbayang kalau saya bukan lahir sbg anak anda. Mungkin yang ada hanyalah Af yg manja dan lemah. Terima Kasih sudah mendidik saya dengan baik dan penuh rasa kasih sayang. 

Terimakasih telah memberikan pemahaman kepada saya sejak kecil bahwa dunia ini luas dan perlu langkahi. Semua memang salah Papa  jika saya selalu ingin berjalan dan bertemu dunia baru! 

Mendaki Gunung?

Mt.Papandayan

Mt.Papandayan

Mt.Prau (2013)

Mt.Prau (2013)

Mendaki gunung membuatku malu 
Menyadarkan bahwa aku tidak ada apa-apanya di muka bumi saat aku berada di atas puncak. Aku malu kepada Tuhan. Aku merasa Kecil, kecil sekali. Rasa malu seperti itu yang lama-lama membuatku menjadi candu. Mungkin itu pula yang dirasakan orang-orang dengan segudang pengalaman dan kisah penjelajahan, baik itu perjalanan atau bahkan mendaki gunung.
Mendaki gunung membuatku menyayangi sesama manusia.
Aku yakin gunung diisi dengan pendaki gunung yang mayoritas orang baik, itu dapat ku temui sewaktu sedang dalam keadaan mendaki, semua ramah, semua membantu bahkan ada yang memberikan air dan saling kenalan.
Mendaki gunung adalah cara belajar adaptasi yang paling sempurna sekaligus paling ekstrem.
Bagaimana tidak? Aku harus beradaptasi dengan dinginnya pagi hari dan teriknya cahaya matahari disiang hari.
Mendaki gunung memaksaku menerima semua jenis kemungkinan, semua jenis pemikiran, tak masalah apakah aku setuju atau tidak. Namun ibarat padi, kian berisi maka kian merunduk.
Mungkin jika sudah tua aku tidak bisa seperti ini lagi, setidaknya jika aku sudah tua aku memiliki segudang kenangan jika masa muda ku tidak dihabiskan dimall, dikos atau bahkan untuk cinta hehehehe
Aku suka mendaki gunung, karena itu sama seperti mengejar impian.
Ibarat mendaki, kita pasti membutuhkan perjuangan untuk mendapatkan pemandangan yang indah. Mendaki gunung itu tidak jauh beda dengan mengejar cita-cita atau menuntut ilmu. Aku menyukai kegiatanku sekarang dalam menuntut ilmu karena aku percaya dan yakin akan ada sesuatu yang baik yang diberikan Tuhan melalui ilmu ini dan aku mengamini itu.

Salam Namaste, India!

Suatu sore, seorang teman saya bertanya, “kemana sih impian liburan kamu? kecuali eropa?”

“INDIA, sahutku.

“Ngapain India? Kamu pikir kondisi geografis India itu sama dengan yang terlihat pada Film Bolywoodnya?”

Begini skemanya,

Berkunjung ke destinasi dengan pemandangan menakjubkan sepertinya sudah biasa dilakukan, namun berkunjung ke tempat dengan padat penduduk, ibu-ibu mandi dikali yang berada pinggir jalan bahkan mencuci baju, sapi berkeliaran di jalanan, desak-desakan dengan manusia, pride warga-nya akan kebangsaan masih tinggi (bangga pake produk dalam negeri termasuk bolywoodnya, cuy), anak-anak muda yang masih suka memakai cara berpakaian khas india seperti shalwar kameez dan tak ketinggalan dupatta. Interaksi sosial seperti inilah yang ingin saya lihat langsung, sebelumnya saya hanya melihat hal ini di film Slumdog Millionaire dan Peekay.

“Suatu saat saya pasti akan menyempatkan diri berkunjung ke India, negara yang identik dengan agama Hindu tersebut”.

Teman saya masih heran dan kemudian tertawa.

Saya tak peduli streotip yang berkembang tentang India, saya tetap ingin ke India dan memulai petualangan perjalanan disana walaupun banyak artikel yang menyebutkan bahwa wisatawan perempuan diminta untuk ekstra hati-hati. Berikut hal-hal yang mendorong saya ingin ke India :

1.Saya akan  menonton  Film Bolywood di bioskop Mumbai

Film-film Bolywood sempat memuncak di Indonesia pada permulaan tahun 2000. Saya adalah salah satu diantara masyarakat yang mengikuti fenomena film-film tersebut. Kehidupan masyarakat, pemuda, dan percintaan, semua tergambar seimbang dengan balutan budaya yang khas.

photo by movies4you.com

photo by movies4you.com

Saya baru sadar, film India punya arti besar dalam masa-masa remaja saya karena pasca Kuch-Kuch Hota Hai, perfilman India mendapatkan ketenaran hebat yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya dan saya ikut terhipnotis. Saya mengetahui tempat-tempat indah di pelosok dunia karena film Bolywood, seperti Taman jembatan Broklyn di film Kal Ho Na Ho, Santorini lewat film Chalte-Chalte 

Saya penasaran, bagaimana menari dan bernyanyi ala film Bolywood diterapkan di India dan untuk itu juga saya ingin melihat langsung di sana.

2. Saya ingin menggunakan Sari

photo by: mohr-mcpherson.com

photo by: mohr-mcpherson.com

Jika keseharian saya identik dengan jeans, kaos dan kemeja, keseharian gadis-gadis India identik dengan Sari. Melihat gadis film-film India yang menggunakan Sari, saya tertarik ingin mencoba menggunakannya, terlihat feminim dan anggun.

3. Memakai Aksesoris, Bindi dan Henna

photo by rebloggy.com

photo by rebloggy.com

Suatu saat saya ingin memakai Bindi di dahi saya, walaupun bindi merupakan tanda pengorbanan seorang wanita di India. Selayaknya seorang wisatawan, saya ingin tampil cantik dengan aksesoris berupa titik merah tersebut dengan dibalun oleh aksesoris-aksesoris gelang kaki, cincin dan kalung emas. Tak hanya dari keluarga berada saja yang mengenakan perhiasan ramai di India, hampir semua kalangan mengenakan perhiasan banyak di tubuhnya, baik imitasi atau asli.

photo by truephotography.com

photo by truephotography.com

Saya juga akan memotif telapak tangan saya dengan Henna. Henna merupakan seni lukis di tanan yang terbuat dari tumbuhan dan tidak permanen jika dilukiskan dikulit, berbeda dengan Tatto.

4. Mengikuti Festival Holi. 

Seperti Indonesia, masyarakat India juga beragam suku, agama dan budaya. Keragaman ini menghasilkan begitu banyak festival-fetival unik, salah satu yang populer adalah Festival Hoi. Festival ini merupakan kegiatan  dimana warga saling melemparkan bubuk berwarna-warni ke satu sama lain.

photo by edition.presstv.ir

photo by edition.presstv.ir

Seusai festival ini, India jadi lebih berawarna semarak. Saya sering melihat adegan ini di film-film Bolywood, seperti Mohabbatein dan Yeh Jawaani Hai Deewani. Sungguh, Film Bolywood sukses mengangkat budaya mereka kedalam film-film besutan negaranya.

5. Mengunjungi Taj Mahal

photo by blog.lefigaro.fr

photo by blog.lefigaro.fr

Kisah romantis di balik pembangunan Taj Mahal menarik jutaan wisatawan untuk mengunjungi bangunan yang sepintas terlihat sperti mesjid, termasuk saya. Taj Mahal merupakan salah satu tujuh keajaiban Dunia. Sebanyak 43 jenis batu permata, termasuk berlian, kristal dan nilam digunakan untuk memperindah Taj Mahal. Saya ingin sekali mengunjuni bukti cinta Kaisar Mughal Shah Janan ini kepada istrinya.

6. Mengisi memori kamera dengan foto-foto Human Interaction

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya pasti akan menemui banyak human interaction di India. Saya bisa melihat manusia-manusia yang berdesakan, laki-laki tua yang melepas sapi ke jalan, seorang gadis yang sembayang, anak kecil yang berlari dijalanan.

istimewa

istimewa

photo by www.abc.net.au

photo by abc.net.au

Jika Eropa dan Asia penuh dengan keindahan alam, maka saya akan banyak menemui Human Interaction di India.

7. Mencicipi Jajanan khas India

Jajanan di india juga diramaikan oleh penjaja dagangan, seperti samosa, kari dan berbagai manisan. Bahkan di kota-kota besar seperti Mumbai, pedagang kaki lima tak mau ketinggalan berjualan.

samosa. photo by thinkindia.net.in

samosa. photo by thinkindia.net.in

photo by ninefinestuff.com

Gol Gappa. photo by ninefinestuff.com

Laddu (manisan). photo by lalasweets.in

Laddu (manisan). photo by lalasweets.in

Saya tertarik mencoba salah satu jajanan khas India, yaknik Gol Gappa, jajanan yang saya ketahui ketika melihat penganan tersebut di Film Rab ne Bana De Jodi.

Lebih dari sekedar pemandangan gunung, pantai atau keindahan alam, berlibur ke India juga pasti akan mengaksyikkan kok dengan melihat kehidupan interaksi sosial masyarakatnya. Jika ingin melihat keindahan alam bisa juga mengunjungi Lembah Kashmir atau Shimla. Jadi apa yang salah dengan pilihan liburan ke India? 🙂

Like Father Like Daughter

 
Foto ini diambil di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Juni 2008, Bapak mengajak kami mengelilingi Pulau Sumatera dalam waktu seminggu. Bapak paling suka mengajak keluarganya jalan-jalan, paling ujung Indonesia, Fak-Fak, Papua Barat, kaki Bapak telah berpijak. 

Adalah Bapak, yang mungkin tanpa sadar memupuk rasa canduku terhadap perjalanan. Bapak selalu membawaku Keluar Kota selagi aku belum mampu buang air kecil sendiri. 

Saat aku mudik ke sosa, sebuah kecamatan kecil di Sumatera Utara Aku selalu mandi sore di sungai dan tidur diatas perut Bapak, sesekali dilepaskan dan dibiarkan Bapak bermain air. Seperti di sungai, Bapak juga membebaskan aku melangkah kemanapun bahkan Bapak selalu menanyakan kemana tujuan Traveling rutin tiap tahunku selanjutnya. Yang ku ingat betul Bapak malah menginginkanku melangkah lebih jauh. 

“Nak, kuliah S2 di luar negeri saja”

Gara-gara Bapak suka bercerita mengenai Petualangan Tintin saat kecil, Aku semakin candu perjalanan.

Oleh karena Bapak, Jalur lintas Sumatera kutempuh- dalam perjalanan 3 hari, Bapak dan Ibuku hanya geleng-geleng saat aku mudik dengan bus Antar Lintas Sumatera, Sempat hampir dihipnotis saat menuju Malang, Ditipu supir taksi saat menuju Danau Toba, dan mungkin akan ada ribuan cerita lain soal perjalanan yang tercipta dan nantinya yang insyaAllah, akan kuceritakan kepada anak cucu kelak. 

Berkat hobi Bapak yang sangat gencar mengisi waktu luang dengan berlibur, Sejak kecil aku sudah berpijak di setiap daerah atau kecamatan hingga perbatasan provinsi di Sumatera Utara. 

Terimakasih, pak. Rasa canduku terhadap perjalanan selalu tidak bisa dibendung. Bapak bentar lagi pensiun, aku wisuda lalu kerja dan kita jalan-jalan lagi ya! 

La chasse au bonheur

Saat belajar filsafat komunikasi, saya tertegun dengan tugas yang diberikan oleh dosen saya.

“Apakan tujuan hidup anda?”

Butuh beberapa hari berpikir untuk jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut, dan akhirnya saya menuliskan jawaban saya di sebuah paper. Saya menjawab, seperti halnya jawaban teman-teman yang lainnya, saya ingin membahagiakan kedua orangtua saya, saya ingin sukses dan sebagainya.

Dosen saya pun menyela, jika kamu tidak memiliki orang tua, apakah tujuan hidupmu akan seperti itu? Untuk tujuan tersebut perasaan apa yang melekat untukmu?

Saya berpikir dan termenung atas pertanyaan yang dilontarkan dosen saya. Dengan tersenyum, dosen saya menjawab kebingungan saya tersebut.

“Kebahagiaan”, sahutnya. Kita hidup untuk mendapat kebahagian, kita semua, anda dan saya.

Tanpa ragu saya setuju dengan pendapat dosen saya. Begini skemanya, saya menyebutkan dalam paper tugas, saya ingin sukses dan jika di simpulkan lagi, sukses akan memberikan rasa kebahagiaan kepada diri kita.

Saya berharap menemukan suatu kebahagiaan dalam sebuah perjalanan hidup, saya percaya bahwa kebahagiaan itu dekat sekali jika saya berusaha dan bersungguh-sungguh. Saat ini saya bukanlah orang yang dapat dikatakan telah memiliki rasa kebahagiaan. Kebahagiaan tidak hanya dianggap mungkin didapatkan oleh setiap orang, kebahagiaan juga diharapkan. Maka saya, bersama jutaan orang lainnya, pasti mengharapkan kebahagiaan.

Mengutip uraian dari buku Eric Weiner mengenai pencarian kebahagiaan;

Perenungan tentang kebahagiaan tentu saja bukan hal baru. Orang yunani dan Romawi Kuno telah banyak merenungkannya. Para filsuf, seperti Aristoteles, Plato, Epicurus dan lain-lainnya memeras otak memikirkan pertanyaan-pertanyaan abadi. Apakah kehidupan yang indah itu? Apakah kesenangan sama dengan kebahagiaan? Lalu ada agama. Apakah agama itu jika bukan petunjuk menuju kebahagiaan? Semuanya ini membantu dan mencerahkan, tetapi ini bukan pengetahuan. Ini adalah pendapat tentang kebahagiaan.

Saya berpikir sejenak memahami isi buku The Geography of Bliss mengenai tempat yang memberikan kebahagiaan, Eric Weiner menguraikan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dari tempat yang menurut kita dapat menyegarkan jiwa, memberi rasa keleluasaan, Ia mencari kebahagiaan dimana berada dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara tetapi tidak ditemukan.

Menurut saya, kebahagiaan bersumber dari diri sendiri. Seperti halnya dengan saya, saya mencari kebahagiaan dengan konsep yang ada dikepala saya.

Saya ingin menjadi seorang nenek yang masih bisa hidup bersama cucu-cucunya, Saya ingin mendidik anak-anak bangsa di pedalaman, Saya ingin mengunjungi Mekkah, India dan Swiss, Saya ingin bekerja dimedia dan/menjadi praktisi media sehingga tetes keringat kedua orang tua saya tidak sia-sia untuk membesarkan saya, Saya ingin memiliki suami yang akan mengajak saya mendaki gunung, dan berbagai keinginan lainnya.

Dengan keinginan-keinginan tersebut, kebahagiaan telah nyata dikehidupan saya. Saat ini, saya sedang sibuk dengan apa yang orang Prancis sebut la chasse au bonheur, “perburuan kebahagiaan”